Attachment for 7 Cara Sederhana untuk Mengurangi Berat Badan dengan Konsistensi

Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Maros, Keluarga Berharap Ferry Irawan Selamat

Keluarga Ferry Irawan Menunggu Kabar dari Pihak Berwenang

Ferry Irawan, seorang pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menjadi salah satu penumpang pesawat ATR 42-500 yang dikabarkan jatuh di Maros, Sulawesi Selatan, pada hari Sabtu (17/1/2026) siang. Saat ini, pihak keluarga masih menunggu kabar resmi dari pihak berwenang terkait kondisi Ferry Irawan.

Rumah orang tua Ferry Irawan, yang terletak di Jalan H Kunen, RT 04 RW 05, Jatimelati, Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, mulai dipasang tenda pada Minggu (18/1/2026). Meskipun demikian, keluarga tidak memasang bendera kuning tanda duka cita. Mereka tetap berharap ada keajaiban dan mukzijat dalam keselamatan Ferry Irawan.

Tohorin, kerabat dekat Ferry Irawan, mengatakan bahwa pihak keluarga masih menunggu informasi resmi dari pihak berwenang. “Keluarga masih menunggu informasi resmi,” katanya. Widya Astuti, kakak Ferry Irawan, juga menyampaikan harapan yang sama. Ia mengatakan bahwa komunikasi terakhir dengan adiknya dilakukan pada Sabtu lalu pukul 09.30 WIB.

Widya mengabarkan rencana keluarga Ferry untuk berlibur ke kawasan Puncak, Bogor. Ia mengirimkan foto anak-anak ke Ferry, tetapi tidak mendapatkan respons. “Saya kirim foto anak-anak ke dia, bilang habis ini aku mau ke rumah Bogor, tapi dia gak balas,” kata Widya. Ia kemudian kembali mengirim video aktivitas anak-anak Ferry Irawan pukul 10.30 WIB, tetapi video tersebut tidak terkirim setelah keluarga menduga Ferry sudah berada dalam penerbangan.

Menurut Widya, Ferry Irawan rutin menjalankan tugas pengawasan udara hampir setiap pekan sebagai bagian dari pekerjaannya. Tugas tersebut sering kali membuatnya bepergian ke berbagai daerah.

Istri Ferry, Meyla Eskaria Putri, sempat melakukan video call singkat dengan suaminya sebelum ada kabar jatuhnya pesawat ATR 42-500. Dalam percakapan itu, Ferry mengingatkan anak-anaknya untuk makan banyak karena anak mereka susah makan. “Sempat video call, dia pesan ke anaknya, makan banyak karena anak saya susah makan,” kata Meyla.

Tugas dan Kehidupan Sehari-hari Ferry Irawan

Ferry Irawan adalah seorang pegawai KKP yang memiliki tanggung jawab penting dalam menjalankan tugas pengawasan udara. Tugas ini sering kali mengharuskannya bepergian ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah-daerah yang membutuhkan pengawasan lebih ketat. Meski tugasnya cukup berat, Ferry selalu menjalankannya dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, Ferry dikenal sebagai sosok yang sangat perhatian terhadap keluarganya. Ia sering kali menghubungi anggota keluarga untuk menanyakan kabar dan memberi dukungan. Hal ini terlihat dari kebiasaannya mengirimkan pesan atau foto kepada saudara dan anak-anaknya saat sedang bepergian.

Selain itu, Ferry juga aktif dalam berbagai kegiatan keluarga. Ia sering kali merencanakan liburan bersama keluarga, seperti yang direncanakan untuk ke Puncak, Bogor. Rencana ini menjadi salah satu hal yang terakhir ia bicarakan dengan keluarga sebelum pesawat yang ditumpanginya dikabarkan jatuh.

Harapan Keluarga dan Upaya Pencarian

Meski situasi saat ini sangat memprihatinkan, keluarga Ferry Irawan tetap berharap bahwa Ferry akan ditemukan dalam keadaan selamat. Mereka percaya bahwa keajaiban bisa saja terjadi, meskipun situasi terasa sangat sulit.

Selain itu, keluarga juga terus berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk memperoleh informasi terbaru tentang kondisi Ferry Irawan. Mereka berharap pihak berwenang dapat segera memberikan jawaban yang jelas dan akurat mengenai nasib Ferry.

Upaya pencarian juga sedang dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk tim penyelamat dan lembaga terkait. Semua pihak berharap agar Ferry Irawan dapat segera ditemukan dan diberikan pertolongan yang cepat.

pencarian-pesawat-hilang-kontak-di-papua-m28y-dom.jpg

Keluarga pegawai KKP di Bekasi menantikan kabar pesawat hilang kontak di Maros

Kecemasan Keluarga Ferry Irawan Pasca Pesawat Hilang Kontak

Kecemasan yang luar biasa menghiasi suasana di rumah orang tua Ferry Irawan, seorang pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang menjadi salah satu penumpang pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan hilang kontak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Pada hari Minggu (18/1/2026), sejumlah kerabat dan tamu berkumpul di kediaman orangtua Ferry di Jalan H. Kunen, RT 04 RW 05, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Sejumlah warga tampak memasang tenda di jalanan depan rumah Ferry untuk melindungi tamu dari hujan yang terus menerus. Para kerabat dan tamu silih berganti datang ke rumah orangtua Ferry. Seorang kerabat, Tohorin (50) mengungkapkan bahwa sejak semalam, keluarga telah berdatangan, termasuk dari Wakil Menteri KKP yang juga hadir di rumah orangtua Ferry.

Tohorin menyampaikan bahwa informasi tentang Ferry yang ikut dalam pesawat yang hilang kontak diperoleh melalui telepon dan kunjungan langsung dari KKP. “Iya sudah dapat informasi dihubungi dari KKP bahwa saudara Ferry ikut dalam pesawat yang dikabarkan hilang kontak,” katanya saat diwawancarai pada Minggu (18/1/2026).

Meskipun demikian, keluarga masih berharap adanya keajaiban terkait kondisi Ferry. Oleh karena itu, mereka belum memasang bendera kuning karena menunggu kepastian dari kementerian.

Ferry Irawan adalah analis kapal pengawas pada Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) sejak 2024. Saat kejadian, ia bersama dua pegawai KKP lainnya menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara di wilayah pengelolaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selain Ferry, yang berpangkat Penata Muda Tingkat I, dua pegawai KKP lain di dalam pesawat yakni Deden Mulyana (Penata Muda Tingkat I), pengelola badan milik negara, serta Yoga Noval, operator foto udara.

Pesawat ATR 42-500 tersebut dilaporkan bertolak dari Yogyakarta menuju Makassar. Informasi awal menyebutkan pesawat mengangkut 10 orang yang terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang, dengan pilot in command Capt Andy Dahananto.

Daftar Penumpang Pesawat Hilang Kontak

Pesawat udara jenis ATR 42-500 yang dioperasikan oleh PT Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026). Hingga Sabtu malam, upaya pencarian masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan dan akan dilanjutkan Minggu pagi.

Sebanyak tiga penumpang dalam pesawat yang hilang kontak di Provinsi Sulawesi Selatan adalah pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Sementara tujuh orang lainnya adalah awak pesawat milik PT Indonesia Air Transport. Artinya pesawat tersebut mengangkut total 10 orang yang terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu (17/1/2026) malam mengatakan, ketiga pegawainya tersebut merupakan tim pengawasan udara atau air surveillance dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). “Tim air surveillance dari Direktorat Jenderal PSDKP berjumlah tiga orang,” ujar Trenggono dalam konferensi pers, Sabtu.

Ia menjelaskan, keberadaan ketiga pegawai KKP di pesawat ATR 42-500 tersebut berkaitan dengan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia melalui pemantauan udara. Sakti Wahyu Trenggono menyatakan prihatin atas kecelakaan pesawat jenis ATR 42-500 di Provinsi Sulawesi Selatan. “Kami menyatakan prihatin. Kami terus terang sedih dan prihatin, dan berdoa yang terbaik untuk para penumpang dan kru pesawat tersebut,” katanya.

Daftar Kru dan Penumpang Pesawat ATR 42-500

Berikut daftar kru dan penumpang pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan hilang kontak:

Kru Pesawat:
1. Pilot: Capt. Andy Dahananto

2. Kopilot: Farhan

3. FOO: Hariadi

4. Engineer 1: Restu Adi

5. Engineer 2: Dwi Murdiono

6. Pramugari 1: Florencia Lolita

7. Pramugari 2: Esther Aprilita

Penumpang (Pegawai KKP):
– Ferry Irawan

– Deden Mulyana

– Yoga Noval

Pesawat ATR 42-500 tersebut diketahui tengah melaksanakan penerbangan dari Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Kontak dengan pesawat dilaporkan hilang saat melintas di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu siang. Hingga kini, penyebab hilangnya kontak pesawat masih belum diketahui.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, serta unsur terkait lainnya terus melakukan pencarian baik melalui jalur udara maupun darat. Pihak Indonesia Air Transport menyatakan terus berkoordinasi dengan otoritas penerbangan dan instansi terkait untuk mendukung proses pencarian dan evakuasi.

Sementara itu, keluarga kru dan penumpang telah mendapatkan pendampingan dari pihak maskapai dan pemerintah terkait. Perkembangan terbaru mengenai pencarian pesawat ATR 42-500 tersebut akan terus disampaikan kepada publik sesuai dengan informasi resmi yang diterima.

Diketahui pesawat ATR 42-500 PK-THT milik Indonesia Air Transport (IAT), pemegang AOC 034 dilaporkan hilang kontak di wilayah Leang-leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu (17/1/2026). Informasi tersebut diterima Basarnas Makassar sekitar pukul 13.17 Wita. Pesawat tersebut diketahui terbang dari Yogyakarta menuju Makassar. Berdasarkan laporan awal, di dalam pesawat terdapat 10 orang, terdiri atas 7 kru dan 3 penumpang, dengan pilot in command Capt Andy Dahananto.

AA1UqEKL.jpg

KNKT: Pesawat ATR Hilang Kontak Terbakar Akibat Tabrakan Lereng



JAKARTA,

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan bahwa Emergency Locator Transmitter (ELT) atau alat pemancar sinyal darurat milik pesawat Indonesia Air Transport ATR 42-500 yang hilang kontak, rusak akibat menabrak lereng gunung.

“ELT rusak akibat pesawat menabrak lereng,” kata Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono, saat dihubungi, Minggu (18/1/2026).

Oleh karena itu, ELT pada pesawat tersebut tidak berfungsi.

Dikutip dari sumber terkait, ELT adalah perangkat penentu lokasi pesawat yang merupakan bagian dari standar peralatan di pesawat.

ELT dipasang di belakang pesawat, dan dirancang untuk dipicu saat benturan atau dapat diaktifkan secara manual menggunakan sakelar jarak jauh dan indikator panel kontrol di kokpit.

Jika terjadi kecelakaan pesawat, perangkat ini dirancang untuk mengirimkan sinyal marabahaya pada frekuensi tertentu.

Di sisi lain, Soerjanto belum mengetahui penyebab pesawat ATR ini hilang kontak.

“Penyebabnya belum, masih terlalu dini,” ujar dia.

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya Mohammad Syafii mengungkapan, pencarian melalui udara terhadap pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang hilang kontak dilanjutkan pada hari ini, Sabtu (17/1/2026).

Keputusan ini diambil mengingat cuaca di sekitar pencarian di Kabupaten Maros pada Sabtu kemarin tak mendukung.

“Setelah terbang di sana, memang karena kondisi cuaca yang in-out nabrak awan keluar awan, sehingga pencarian dari udara belum maksimal dan akan dilanjutkan besok pagi,” kata Syafii dalam tayangan Kompas TV, Sabtu.

Selain itu, pencarian udara pada malam hari juga tidak akan maksimal.

Namun demikian, pencarian lewat jalur darat bersama dengan masyarakat terus dilakukan oleh tim.

Adapun pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak saat melintasi wilayah Leang-leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

Pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, dengan tujuan Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Berdasarkan jadwal penerbangan, pesawat seharusnya mendarat sekitar pukul 12.20 WITA.

Namun, hingga melewati waktu pendaratan yang ditentukan, pesawat belum juga tiba di Makassar dan keberadaannya tidak dapat dipastikan.

Informasi Terkait ELT

Emergency Locator Transmitter (ELT) adalah perangkat penting dalam keselamatan penerbangan. Berikut beberapa informasi utama tentang ELT:

  • Fungsi utama: ELT dirancang untuk mengirimkan sinyal darurat jika pesawat mengalami kecelakaan. Sinyal ini membantu badan pencarian dan pertolongan (SAR) menemukan lokasi pesawat.
  • Pemasangan: ELT biasanya dipasang di bagian belakang pesawat dan bisa diaktifkan secara otomatis saat terjadi benturan keras atau manual melalui panel kontrol di kokpit.
  • Frekuensi sinyal: ELT bekerja pada frekuensi khusus, seperti 121,5 MHz dan 406 MHz, yang dapat dideteksi oleh satelit dan sistem pencarian darurat.
  • Keterbatasan: Jika ELT rusak, maka fungsi daruratnya tidak dapat berjalan, sehingga sulit bagi pihak berwenang untuk menemukan lokasi pesawat.

Proses Pencarian Pesawat

Pencarian pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak terus dilakukan oleh berbagai pihak. Berikut rincian proses pencarian:

  • Pencarian udara: Tim SAR melakukan pencarian dari udara, namun cuaca buruk menghambat proses ini. Cuaca yang tidak stabil menyulitkan pengoperasian pesawat pencari.
  • Pencarian darat: Tim mencari korban dan sisa-sisa pesawat di daerah pegunungan dengan bantuan masyarakat setempat.
  • Peran masyarakat: Masyarakat sekitar turut serta dalam pencarian, memberikan informasi dan bantuan logistik.
  • Koordinasi antarinstansi: Basarnas bekerja sama dengan KNKT dan instansi lain untuk memastikan pencarian dilakukan secara efektif dan cepat.

Status Pesawat yang Hilang Kontak

Pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak memiliki rute penerbangan yang jelas. Berikut detail penerbangan:

  • Rute penerbangan: Pesawat lepas landas dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, dengan tujuan Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.
  • Waktu penerbangan: Pesawat seharusnya mendarat sekitar pukul 12.20 WITA.
  • Kondisi saat kehilangan kontak: Pesawat hilang kontak saat melintasi wilayah Leang-leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
  • Kemungkinan penyebab: Penyebab pasti kehilangan kontak masih dalam penyelidikan.

Hingga saat ini, upaya pencarian terus dilakukan, dengan harapan pesawat dapat ditemukan dalam waktu dekat.

AA1UqzNN.jpg

Pembaruan terkini: 7 awak dan 3 penumpang pesawat ATR 42-500 jatuh di Maros



JAKARTA, PT Indonesia Air Transport (IAT) memberikan penjelasan terkait jumlah kru pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada hari Sabtu (17/1/2026).

Direktur Utama PT IAT, Tri Adi Wibowo, mengungkapkan bahwa dalam penerbangan tersebut terdapat tujuh kru yang sedang bertugas. Hal ini berbeda dengan data yang tercantum dalam Passenger Manifest yang sempat beredar sebelumnya.

“Saya menginformasikan, dari PT Indonesia Air Transport bahwa kru yang on-board ada tujuh,” ujar Tri dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Mina Bahari IV KKP, Jakarta, Sabtu (17/1/2026).

Perbedaan Daftar Nama Kru

Tri menjelaskan rinci nama-nama krunya yang terlibat dalam penerbangan tersebut. Nama-nama tersebut antara lain Andi Dahananto, Muhammad Farhan Gunawan, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, Esther Aprilita, dan satu orang lagi yang belum disebutkan namanya.

Namun, terdapat perbedaan antara daftar kru yang diberikan oleh IAT dengan yang tercantum dalam Passenger Manifest. Hanya tiga nama yang sama, yaitu Andi Dahananto, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita. Sementara itu, beberapa nama kru lain yang tercantum dalam manifest tidak disebutkan oleh Tri. Nama-nama tersebut antara lain Yudha Mahardika, Sukardi, Hariadi, Franky D Tanamal, dan Junaidi.

Meskipun demikian, Tri tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai alasan perbedaan tersebut.

Jumlah Penumpang dan Kru

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F Laisa, menyebutkan bahwa jumlah kru dan penumpang dalam pesawat ATR 42-500 mencapai 10 orang. Hal ini karena Captain Sukardi tidak ikut dalam penerbangan.

“Confirm Capt. Sukardi tidak on board, sehingga POB hanya 10 orang. Sesuai informasi dari operator pesawat IAT,” ujar Lukman saat dikonfirmasi, Sabtu (17/1/2026).

Tiga Pegawai KKP dalam Penerbangan

Selain tujuh kru IAT, dalam penerbangan tersebut juga terdapat tiga pegawai dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono, merincikan nama-nama pegawai tersebut. Mereka adalah Analis Kapal Pengawas Ferry Irawan, Pengelola Barang Milik Negara Deden Mulyana, dan Operator Foto Udara Yoga Naufal.

Ketiga pegawai ini melakukan penerbangan dalam rangka pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara (air surveillance) di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia.

“Terkait adanya informasi yang beredar di masyarakat mengenai logo Kementerian Kelautan Perikanan, yang perlu kami sampaikan bahwa benar terdapat pegawai KKP dalam pesawat tersebut,” kata Sakti pada kesempatan yang sama.

Proses Pencarian Pesawat

Sampai saat ini, pihak KKP masih belum mendapatkan informasi lebih rinci mengenai kondisi penumpang dan penyebab pesawat hilang kontak saat melakukan penerbangan rute Bandara Adi Sucipto Yogyakarta – Bandara Sultan Hasanuddin Makassar siang tadi.

Saat ini proses pencarian masih terus dilakukan oleh Tim SAR Gabungan. KKP terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memantau perkembangan pencarian pesawat tersebut.

“KKP tentu telah dan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memantau perkembangan pencarian pesawat air surveillance tersebut. terkait hal pencarian dan menyebabkan insiden, kami serahkan seluruhnya kepada Basarnas, KNKT, dan Kementerian Perhubungan,” tuturnya.

Sukhoi-Skadron-11_2-e1689727594183.jpeg

H+1 Pesawat ATR 42-500 Jatuh, Helikopter Lanud Sultan Hasanuddin Terbang di Atas Leang-leang

Pencarian Pesawat ATR 42-500 yang Hilang Kontak di Maros dan Pangkep

Operasi pencarian pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel) terus berlangsung. Operasi ini melibatkan ratusan personel gabungan dari berbagai instansi seperti TNI, Polri, Basarnas, serta pemerintah daerah.

Tim SAR Menggunakan Berbagai Alat untuk Menyisir Area

Helikopter dan drone digunakan sebagai alat utama dalam operasi penyisiran udara. Helikopter milik Lanud Sultan Hasanuddin melakukan penyisiran di kawasan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros. Tim SAR juga membawa peralatan pendukung seperti peralatan evakuasi dan elektrifikasi. Jika diperlukan, logistik akan didrop ke lokasi.

Untuk memastikan komunikasi tetap stabil di area yang sulit dijangkau sinyal, tim menggunakan perangkat komunikasi khusus seperti Starlink portable dan handy talky (HT). Operasi ini dibagi ke dalam lima sektor guna memaksimalkan area penyisiran. Setelah tim tiba di puncak, drone akan digunakan untuk asesmen awal dan melihat kondisi di bawah.

Temuan Serpihan Pesawat

Sebelumnya, tim SAR berhasil menemukan serpihan pesawat. Pada pukul 07.46 WITA, serpihan bagian window pesawat ditemukan di koordinat 04°55’48” LS – 119°44’52” BT. Pada pukul 07.49 WITA, bagian badan pesawat berukuran besar ditemukan. Selanjutnya, pada pukul 07.52 WITA, bagian puntak pesawat terbuka dan ekor pesawat ditemukan di sebelah selatan lereng bawah lokasi kejadian.

Pada pukul 08.02 WITA, serpihan besar kembali terpantau oleh SRU aju dengan pemantauan udara menggunakan Helikopter Caracal. Pada pukul 08.11 WITA, tim aju menyampaikan kebutuhan peralatan tambahan seperti perlengkapan mountaineering atau climbing untuk menjangkau lokasi yang memiliki medan terjal.

Fokus pada Pengamanan Lokasi dan Keselamatan Personel

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menyampaikan bahwa temuan serpihan menjadi petunjuk penting dalam operasi SAR yang sedang berlangsung. Tim SAR gabungan saat ini fokus pada pengamanan lokasi, pendataan temuan, serta penyesuaian taktik operasi sesuai dengan kondisi medan di lapangan.

Ia menegaskan bahwa medan lokasi kejadian cukup menantang dan memerlukan dukungan peralatan khusus. Beberapa titik berada di area lereng dan membutuhkan peralatan mountaineering. Keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama dalam menjalankan operasi ini.

Peran Berbagai Unsur dalam Operasi SAR

Operasi SAR melibatkan unsur dari Basarnas Makassar, TNI, Polri, AirNav, Paskhas, serta dukungan masyarakat setempat. Berdasarkan data awal AirNav Indonesia, posisi terakhir pesawat berada di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, dengan koordinat 04°57’08” Lintang Selatan dan 119°42’54” Bujur Timur.

Kawasan hilangnya pesawat yang dipiloti kapten senior, Andy Dahananto (53 tahun), berada di kawasan pegunungan karst Gunung Bulusaraung perbatasan Maros – Pangkep dan Bone. Gunung Bulusaraung memiliki ketinggian 1.353 Meter Dari Permukaan Laut (MDPL).

Kawasan ini berjarak sekitar 21 km sebelah timur Pangkajene, ibu kota Pangkep, dan sekitar 26 km tenggara Maros. Kawasan ini masuk Taman Nasional Bantimurung dan hutan vegetasi basah Karaengta.

Akses ke kawasan pendakian favorit anak pencinta alam ini bisa dari kawasan Leang-leang, Jalan Poros Maros – Bone. Dari Pangkep bisa diakses dari Jalan Poros Makassar – Pangkep km 49, melewati eks Pabrik Semen Tonasa 1 di Balocci ke timur.

Hingga saat ini, operasi SAR masih terus berlangsung dan perkembangan lebih lanjut akan disampaikan secara resmi sesuai hasil di lapangan.


307338_afd8469399_280.jpg

Saksi Mata: Pesawat ATR Indonesia Air Transport Kikis Gunung Bulusaraung, Lalu Meledak

Pengalaman Mencekam Pendaki di Puncak Gunung Bulusaraung

Pada hari Ahad (18/1/2026) siang, suasana tenang yang biasa terjadi di puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, tiba-tiba berubah menjadi mencekam. Dua pendaki muda, Reski (20) dan Muslimin (18), yang sedang menikmati pemandangan dari ketinggian, menjadi saksi langsung detik-detik kecelakaan pesawat.

“Saya melihat pesawat itu menghantam gunung (Bulusaraung), lalu meledak dan terbakar,” kata Reski dengan suara masih bergetar saat menceritakan kembali peristiwa yang ia alami.

Pesawat yang dimaksud adalah ATR 42-500 bernomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport. Pesawat ini disewa untuk mendukung Tim Air Surveillance Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Saat kejadian, Reski dan Muslimin berada di puncak Bulusaraung. Tanpa peringatan, sebuah pesawat melintas rendah di hadapan mereka.

“Sekitar jam 1 siang (13.00 WITA),” tutur Reski singkat.

Dalam hitungan detik, pesawat itu menghantam lereng gunung. Ledakan disertai api membuat Reski dan Muslimin terpaku ketakutan. Jarak mereka dengan lokasi ledakan disebut Reski hanya sekitar 100 meter.

“Meledak dan ada api. Saya dapat serpihan yang berhamburan,” ujar Reski, alumnus Pondok Pesantren DDI Tobarakka, Siwa, Kabupaten Wajo.

Reski mengaku tidak sempat merekam kejadian secara utuh karena semuanya berlangsung sangat cepat. “Cepat sekali (kejadiannya),” tuturnya.

Meski demikian, usai ledakan, keduanya menemukan sejumlah serpihan badan pesawat yang memuat logo Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta beberapa dokumen yang ikut terhambur. Penemuan itu sempat direkam Reski menggunakan ponselnya sebagai bukti awal.

Pesawat tersebut diketahui mengangkut tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan, yakni Feri Irawan (Penata Muda Tingkat I, Analis Kapal Pengawas), Deden Mulyana (Penata Muda Tingkat I, Pengelola Barang Milik Negara), dan Yoga Noval (Operator Foto Udara).

Mereka juga membawa sejumlah dokumen penting yang tercecer akibat kecelakaan. Rasa takut dan khawatir akan kondisi sekitar membuat Reski dan Muslimin memutuskan untuk turun gunung. Mereka kembali ke wilayah Balocci dan tiba setelah salat Ashar, namun membawa kabar duka dan serpihan dari tragedi kecelakaan pertama di dunia aviasi Tanah Air awal 2026.

Informasi Terkait Kecelakaan Pesawat

Sebelumnya, sebuah pesawat ATR 42-500 yang dioperasikan Indonesia Air Transport dilaporkan mengalami hilang kontak di wilayah Sulawesi Selatan saat dalam penerbangan menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT itu diketahui mengangkut 10 orang yang terdiri dari awak dan penumpang.

Pesawat turboprop tersebut selama ini digunakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendukung kegiatan patroli maritim. Hingga kini, tim SAR gabungan masih terus melakukan upaya pencarian sekaligus verifikasi di area yang diduga menjadi lokasi jatuhnya pesawat.

Basarnas menegaskan bahwa fokus utama operasi saat ini adalah menemukan titik pasti keberadaan pesawat serta memastikan kondisi seluruh awak dan penumpang. Proses pencarian dihadapkan pada tantangan medan yang sulit, mengingat lokasi didominasi kawasan pegunungan dan hutan lebat.

Kesimpulan

Peristiwa kecelakaan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung menjadi momen yang sangat mencekam bagi para pendaki yang berada di lokasi kejadian. Kejadian ini juga menunjukkan betapa pentingnya keselamatan penerbangan, terutama dalam operasi yang melibatkan instansi pemerintah. Dengan adanya upaya pencarian yang terus dilakukan, diharapkan semua korban dapat segera ditemukan dan diberikan bantuan yang diperlukan.


AA1UqqUV.jpg

Pembaruan Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung: Kabut dan Medan Curam Menghambat Pencarian

Update Terkini Pemulihan Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Gunung Bulusaraung

Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport diduga jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 13.17 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Pesawat dengan rute Yogyakarta–Makassar tersebut disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk patroli udara di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara RI 712. Dalam pesawat terdapat 7 kru serta 3 penumpang.

Tiga penumpang tersebut merupakan staf KKP, yakni tim air surveillance dari Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Analisa Pengamat, Penata Muda Tingkat 1 Ferry Irrawan, Penata Muda 1, Deden Mulyana selaku Pengelola Barang Milik Negara, dan Yoga Naufal selaku Operator Foto Udara.

“Perlu kami sampaikan bahwa benar terdapat pegawai KKP dalam pesawat tersebut yang melakukan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara atau air surveillance di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia,” kata Sakti dalam konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Sabtu (17/1/2026) malam.

Kepala Basarnas, Marsdya Mohammad Syafii, juga membenarkan bahwa Pesawat ATR 42-500 itu sedang dalam misi patroli udara. “Misinya adalah patroli udara sehingga pesawat tersebut memang tidak dalam misi mengangkut penumpang dari Aerodrome dari Jogja ke Makassar,” paparnya, Sabtu malam.

Pencarian pun dilanjutkan lagi pada Minggu (18/1/2026) pagi ini, dengan fokus mencari korban dan black box pesawat di Pegunungan Bulusaraung (1.353 -1531 Mdpl), perbatasan Pangkep-Maros-Bone, Sulawesi Selatan. Lokasi dugaan titik jatuhnya pesawat berlogo Kementerian Kelautan dan Perikanan ini, di punggung utara dan timur Gunung tertinggi ke-6 di Sulsel, setelah Bawakaraeng (2.830 mdpl) dan Lompobattang (2.874 mdpl).

Kronologi Kecelakaan

Pesawat dengan registrasi PK-THT itu dilaporkan kehilangan komunikasi setelah menerima arahan terakhir dari Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC). Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menjelaskan bahwa pesawat jenis ATR 42-500 buatan tahun 2000 tersebut dipiloti oleh Capt Andy Dahananto dan sedang melakukan pendekatan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Namun, dalam proses pendekatan, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya. “Dalam proses pendekatan ke landasan pacu RWY 21, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, sehingga ATC memberikan arahan koreksi posisi,” ujar Lukman, dikutip dari Tribun-Timur.com. ATC kemudian menyampaikan beberapa instruksi lanjutan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur. “Namun setelah penyampaian arahan terakhir, komunikasi dengan pesawat terputus dan dinyatakan loss contact,” jelasnya. Menindaklanjuti kejadian tersebut, ATC Makassar langsung mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase) dan berkoordinasi dengan Basarnas serta aparat kepolisian. AirNav Indonesia Cabang MATSC juga segera menghubungi Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat dan Polres Maros untuk mendukung proses pencarian dan pertolongan.

Daftar Korban

Termasuk 3 staf KKP, berikut adalah daftar lengkap korban jatuhnya Pesawat ATR 42-500:

Tim air surveillance itu dari Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP).

Ferry Irrawan, Penata Muda Tingkat I, jabatan Analis Kapal Pengawas.

Deden Mulyana, Penata Muda Tingkat I, jabatan Pengelola Barang Milik Negara.

Yoga Nauval, Operator Foto Udara.

7 kru yang berada di dalam pesawat:

Capt. Andy Dahananto

Yudha Mahardika

Hariadi

Franky D Tanamal

Junaidi

Florencia Lolita

Esther Aprilita S

Keterangan Saksi

2 pendaki muda, Reski (20) dan Muslimin (18), yang sedang menikmati pemandangan dari ketinggian, menjadi saksi mata langsung detik-detik kecelakaan pesawat. Saat kejadian, Reski dan Muslimin berada di puncak Bulusaraung. Tanpa peringatan, sebuah pesawat melintas rendah di hadapan mereka. “Saya lihat pesawatnya dikikis itu gunung (Bulusaraung), lalu meledak dan terbakar. Sekitar jam 1 siang (13.00 WITA),” kata Reski dengan suara masih bergetar saat menceritakan kembali peristiwa yang ia saksikan, dikutip dari Tribun-Timur.com. Dalam hitungan detik, pesawat itu menghantam lereng gunung, ledakan disertai api membuat Reski dan Muslimin terpaku ketakutan. Reski mengatakan, jaraknya dengan lokasi ledakan hanya sekitar 100 meter. “Meledak dan ada api. Saya dapat serpihan yang berhamburan,” ujar Reski, alumnus Pondok Pesantren DDI Tobarakka, Siwa, Kabupaten Wajo. Saat itu, Reski mengaku tidak sempat merekam kejadian secara utuh karena semuanya berlangsung sangat cepat. Setelah ledakan terjadi, kata Reski, dia menemukan sejumlah serpihan badan pesawat yang memuat logo Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta beberapa dokumen yang ikut terhambur. Penemuan itu sempat direkam Reski menggunakan ponselnya sebagai bukti awal. Karena dilanda rasa takut dan khawatir akan kondisi sekitar, Reski dan Muslimin akhirnya memutuskan turun gunung. Mereka kembali ke wilayah Balocci dan tiba setelah salat Ashar, tapi membawa kabar duka dan serpihan dari tragedi kecelakaan pertama di dunia aviasi Tanah Air awal 2026.

Kabut Tebal

Tim SAR Gabungan menghadapi kabut tebal dan medan yang curam pada pencarian pesawat ATR 42-500 Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan di hari kedua, Minggu (18/1/2026). Tim SAR gabungan juga menghadapi medan curam mengingat lokasi ditemukannya serpihan-serpihan diduga milik pesawat rute Yogyakarta – Makassar itu berada di kawasan Gunung Bulusaraung yang berketinggian 1.535 meter di atas permukaaan laut (MDPL). Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar Andi Sultan menjelaskan mengawali operasi pencarian hari ini, tim aju yang membawa drone serta peralatan evakuasi lainnya telah diberangkatkan pada pukul 06.15 Wita. Kemudian, tim lainnya juga telah bergerak menggunakan helikopter H225M Caracal TNI Angkatan Udara dari Lanud Sultan Hasanuddin Makassar menuju lokasi pada pukul 06.30 Wita. Andi mengatakan kru helikopter tersebut menyampaikan telah melihat serpihan diduga jendela pesawat berukuran kecil pada pukul 07.46 Wita. Selanjutnya, serpihan besar diduga badan dan ekor pesawat itu dilaporkan terlihat pada pukul 07.49 Wita di bagian bawah lereng. “Pada pukul 07.49 Wita penemuan besar badan pesawat, informasi dicurigai sebagai badan pesawat dan ekor pesawat di lereng di bagian selatan, bagian bawah lereng itu, kalau dari puncak itu di bagian utaranya,” kata Andi dalam keterangan video Basarnas, Minggu (18/1/2025) pagi. Untuk itu, kata dia, tim aju kemudian dikerahkan untuk menuju lokasi diduga badan pesawat tersebut. Akan tetapi akses menuju lokasi cukup terjal. “Saat ini sementara akses untuk turun ke badan pesawat ini cukup terjal, maka dari itu kita memang harus menghitung untuk keamanannya dulu. Tetapi saat ini tim sudah tiba. Dan kendala-kendala yang ada yang di lokasi itu saat ini berkabut,” ungkap dia.

Evakuasi Via Jalur Pendakian

Andi menjelaskan rencananya evakuasi diduga puing dan korban dari pesawat ATR 42-500 itu akan dilakukan lewat jalur pendakian Gunung Bulusaraung. Andi menjelaskan, akses jalur pendakian gunung lebih mudah dijangkau untuk melakukan evakuasi meskipun ada jalur lain yang jaraknya lebih dekat. “Kami merencanakan untuk jalur evakuasinya kita tetap menggunakan jalur yang pendakian karena memang itu akses yang mudah untuk dijangkau,” kata Andi. “Sebenarnya ada yang dekat cuma terjal, makanya kita mengambil safety-nya saja. Apalagi di sini ada sekitar 400-500 personel SAR Gabungan) yang bisa membantu dalam proses evakuasi,” pungkasnya.

Tim Spesialis ATR 42-500 Perancis Investigasi Kecelakaan

Manajemen pabrikan pesawat ATR 42-500 di Toulouse, Perancis, Minggu hari ini akan mengirim teknisi spesialis insiden ke pegunungan Bulusaraung (1.535 mdpl) di perbatasan tiga kabupaten di Sulsel. Rencana ini dikemukakan Media Relation ATR Charlotte GIURIA dan Jeanne CAUMONT, dilansir situs resmi perusahaan. “Tim spesialis kami akan bergabung dan mendukung penuh investigasi kecelakaan ini bersama tim dan operator di Indonesia,” demikian siaran pers yang dilansir di www.atr-aircraft.com. Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan.

Pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport PK-THT Berusia 25 Tahun

Pesawat ATR 42-500 tersebut disebutkan sudah berusia 25,3 tahun dan pertama kali terbang pada Selasa, 10 Oktober 2000, dari pabrikannya di Toulouse, Perancis. ATR sendiri merupakan singkatan dari Avions de Transport Régional, yaitu pesawat turboprop buatan kerja sama Perancis–Italia. Adapun, ATR merupakan perusahaan patungan (joint-venture) Airbus (Perancis) dengan Leonardo (Italia). Pesawat ATR umumnya digunakan untuk penerbangan jarak pendek hingga menengah, terutama rute antardaerah. Dikutip dari Planespotters.net, PK-THT pertama kali dioperasikan Air Dolomiti pada Maret 2001 hingga 2010. Air Dolomiti adalah maskapai asal Italia yang didirikan pada 1989 dan kini menjadi anak perusahaan Lufthansa Group. Maskapai ini banyak melayani rute regional Eropa, terutama penerbangan dari dan ke Italia–Jerman. Kemudian, pada Juli 2010, PK-THT diambil alih Indonesia Air Transport, yang saat itu mayoritas sahamnya dimiliki MNC Group. Indonesia Air Transport kemudian menyewakannya kepada Vale hingga Kementerian Kelautan dan Perikanan.

AA1UqC8u.jpg

Saksi Langsung Ledakan Pesawat ATR 42-500: Serpihan Menghujani Area 100 Meter

Tragedi di Puncak Gunung Bulusaraung: Pesawat Terbang Rendah dan Meledak

Pada siang hari yang biasanya tenang, puncak Gunung Bulusaraung di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, tiba-tiba berubah menjadi saksi bisu dari sebuah tragedi udara yang mengguncang. Peristiwa mengerikan terjadi pada Ahad (18/1/2026) ketika dua pendaki muda, Reski (20) dan Muslimin (18), sedang menikmati pemandangan hijau yang membentang luas dari atas gunung.

Saksi Mata di Ketinggian: Pesawat Melintas Terlalu Rendah

Reski dan Muslimin berada di puncak saat sebuah pesawat muncul di hadapan mereka dengan ketinggian yang tidak lazim. Pesawat itu melintas rendah, seolah terlalu dekat dengan tubuh gunung yang menjulang. “Sekitar jam 1 siang (13.00 WITA),” tutur Reski singkat, mengenang momen yang akan terus terpatri dalam ingatannya.

Beberapa detik berikutnya menjadi rangkaian kejadian yang sulit dipercaya. Di hadapan mata mereka, pesawat tersebut tak mampu menghindari lereng gunung.

“Dikikis Gunung, Lalu Meledak”: Ledakan yang Menggetarkan Jiwa

Dengan suara yang masih diliputi trauma, Reski menggambarkan detik-detik mengerikan yang ia saksikan secara langsung. “Saya lihat pesawatnya dikikis itu gunung (Bulusaraung), lalu meledak dan terbakar,” kata Reski dengan suara masih bergetar saat menceritakan kembali peristiwa yang ia saksikan.

Dalam hitungan detik, benturan keras diikuti ledakan hebat mengguncang kawasan puncak. Api menyembur, serpihan berhamburan ke berbagai arah. Reski menyebut jarak mereka dengan titik ledakan hanya sekitar 100 meter jarak yang membuat nyawa mereka berada di ambang bahaya.

Segalanya Terjadi Terlalu Cepat

Waktu seolah berhenti, namun peristiwa itu justru berlangsung teramat singkat. Reski mengaku tidak sempat mengabadikan momen sejak awal karena kejadian tersebut terjadi begitu cepat dan mengejutkan. “Cepat sekali (kejadiannya),” tuturnya.

Rasa takut dan kebingungan membuat keduanya terpaku sesaat sebelum akhirnya berusaha menjauh dari lokasi berbahaya tersebut.

Serpihan, Dokumen, dan Logo KKP di Lereng Gunung

Setelah ledakan mereda, Reski dan Muslimin menemukan fakta yang semakin menguatkan bahwa apa yang mereka saksikan bukanlah insiden biasa. Di sekitar lokasi, terdapat serpihan badan pesawat yang masih jelas menampilkan logo Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta sejumlah dokumen yang ikut terhambur.

Temuan tersebut sempat direkam Reski menggunakan ponselnya sebagai bukti awal dari tragedi yang baru saja terjadi. Pesawat yang jatuh diketahui merupakan ATR 42-500 bernomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport.

Pesawat tersebut disewa untuk mendukung Tim Air Surveillance Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Penumpang di Dalam Pesawat

Dalam penerbangan nahas itu, pesawat membawa tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan, yakni Feri Irawan (Penata Muda Tingkat I, Analis Kapal Pengawas), Deden Mulyana (Penata Muda Tingkat I, Pengelola Barang Milik Negara), dan Yoga Noval (Operator Foto Udara). Selain itu, pesawat juga mengangkut awak lainnya, dengan total penumpang dan kru berjumlah 10 orang.

Turun Gunung dengan Kabar Duka

Dilanda ketakutan dan kekhawatiran akan potensi bahaya lanjutan, Reski dan Muslimin akhirnya memutuskan untuk segera turun gunung. Mereka bergerak menuju wilayah Balocci dan tiba setelah waktu salat Ashar. Namun, kepulangan mereka bukan sekadar membawa cerita pendakian. Mereka membawa kabar duka, serpihan tragedi, serta kisah tentang kecelakaan udara pertama yang mengguncang dunia aviasi Tanah Air di awal 2026.

Operasi SAR dan Tantangan Medan Ekstrem

Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 yang dioperasikan Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak saat melakukan penerbangan menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat turboprop tersebut selama ini digunakan KKP untuk mendukung kegiatan patroli maritim.

Hingga kini, tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian dan verifikasi di area yang diduga menjadi lokasi jatuhnya pesawat. Basarnas menegaskan bahwa fokus utama operasi adalah menemukan titik pasti keberadaan pesawat serta memastikan kondisi seluruh awak dan penumpang.

Namun, upaya tersebut tidak mudah. Medan yang didominasi pegunungan terjal dan hutan lebat menjadi tantangan besar dalam proses evakuasi dan pencarian, sementara waktu terus berjalan dan harapan bergantung pada ketepatan koordinasi seluruh pihak yang terlibat.

AA1RBe9i.jpg

Penumpang Pesawat Kalimantan Melonjak Saat Nataru, Tiket Diskon 14 Persen



BALIKPAPAN — Peningkatan perjalanan udara selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) diprediksi akan terjadi secara signifikan di wilayah Kalimantan. Hal ini didorong oleh berbagai insentif yang diberikan pemerintah, sehingga harga tiket pesawat turun sekitar 14 persen.

Kepala Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah VII, Ferdinan Nurdin, menjelaskan bahwa wilayah kerja Otban VII mencakup Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Tengah. Menurutnya, lonjakan minat masyarakat untuk bepergian berkaitan langsung dengan kebijakan Menteri Perhubungan yang memberikan diskon dan subsidi pada beberapa komponen biaya penerbangan.

“Kami belum bisa menyampaikan angka pastinya, tetapi kemungkinan besar lonjakannya akan lebih tinggi dari tahun lalu,” ujarnya.

Ferdinan menambahkan, salah satu insentif yang diberikan adalah penanggungan PPN 6 persen yang biasanya dibayar oleh penumpang. Selain itu, ada penyesuaian tarif layanan bandara dan penurunan harga avtur di 37 bandara yang memengaruhi biaya operasional maskapai. Pemerintah juga memberikan diskon untuk beberapa komponen biaya bandara seperti PJ4U, PJP2U, dan sejumlah biaya lain yang biasanya dibebankan kepada penumpang.

Selain itu, operator bandara diminta untuk memperpanjang jam operasional selama masa Nataru agar dapat mengakomodasi tingginya pergerakan pesawat dan penumpang. Dengan adanya kebijakan tersebut, harga tiket pesawat diperkirakan turun sekitar 13 hingga 14 persen selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

“Ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah agar masyarakat bisa menikmati libur panjang dengan biaya yang lebih terjangkau,” kata Ferdinan.

Ia menegaskan bahwa penurunan harga tiket tersebut akan berdampak langsung pada peningkatan jumlah perjalanan udara, khususnya tujuan-tujuan utama di Kalimantan.

Buka Posko Nataru

Untuk memastikan kelancaran operasional selama masa puncak, Otban VII akan membuka posko Nataru di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan. Bandara ini menjadi yang tersibuk di wilayah tersebut.

Monitoring juga dilakukan di bandara-bandara lain seperti Samarinda, Berau, Tarakan, Palangkaraya, Sampit, dan Pangkalan Bun. Semua bandara tersebut diperkirakan mengalami kepadatan yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Di tengah potensi lonjakan penumpang, Ferdinan memastikan bahwa kesiapan seluruh bandara dan maskapai tetap menjadi prioritas utama. Ia juga menyebutkan kondisi cuaca yang belakangan ekstrem dan sempat menyebabkan beberapa pesawat melakukan go around.

Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari prosedur keselamatan yang harus diikuti pilot.

“Dalam cuaca buruk, pilot tidak boleh melakukan pendaratan coba-coba. Go around adalah prosedur standar ketika jarak pandang terbatas,” jelasnya.

AA1K4b3a.jpg

Jadwal Kapal Pelni Tual-Timika 2025, Tiket Mulai Rp190 Ribu

Jadwal Kapal Pelni Rute Tual ke Timika Bulan Desember 2025

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) adalah perusahaan pelayaran milik negara yang bergerak di bidang transportasi laut. Perusahaan ini menyediakan layanan transportasi penumpang dan barang menggunakan kapal laut, dengan fokus pada rute domestik di seluruh Indonesia. Salah satu rute yang dilayani oleh Pelni adalah rute Tual ke Timika.

Pada bulan Desember 2025, sejumlah kapal Pelni akan melewati rute tersebut. Terdekat, KM Tatamailau akan berlayar dari Tual pada 5 Desember 2025. Selain itu, terdapat beberapa jadwal lain yang bisa dipertimbangkan oleh calon penumpang.

Promo Diskon Tiket Kapal Penumpang Khusus Nataru

Selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru), Pelni memberikan promo diskon 20 persen untuk harga tiket kapal penumpang kelas ekonomi. Promo ini berlaku untuk seluruh trayek kapal penumpang Pelni, tetapi memiliki kuota terbatas. Harga tiket kelas ekonomi rute Tual ke Timika yang awalnya Rp235.500 kini menjadi Rp190.100 setelah diskon.

Jadwal Kapal Pelni Rute Tual ke Timika Bulan Desember 2025

Berikut ini adalah jadwal dan harga tiket kapal Pelni rute Tual ke Timika bulan Desember 2025:

KM Tatamailau

  • Kelas Ekonomi / E
  • Waktu Berangkat: Jumat, 05 Desember 2025 pukul 17.00
  • Waktu Tiba: Sabtu, 06 Desember 2025 pukul 23.00
  • Waktu Tempuh: 01 hari 06 jam 00 menit
  • Harga Tiket: Rp235.500

KM Sirimau

  • Kelas Ekonomi / E
  • Waktu Berangkat: Minggu, 21 Desember 2025 pukul 14.00
  • Waktu Tiba: Selasa, 23 Desember 2025 pukul 00.01
  • Waktu Tempuh: 01 hari 10 jam 01 menit
  • Harga Tiket: Rp190.100

KM Tatamailau (Kembali)

  • Kelas Ekonomi / E
  • Waktu Berangkat: Selasa, 23 Desember 2025 pukul 02.00
  • Waktu Tiba: Rabu, 24 Desember 2025 pukul 01.00
  • Waktu Tempuh: 23 jam 00 menit
  • Harga Tiket: Rp190.100

KM Leuser

  • Kelas Ekonomi / E
  • Waktu Berangkat: Kamis, 25 Desember 2025 pukul 12.00
  • Waktu Tiba: Jumat, 26 Desember 2025 pukul 22.00
  • Waktu Tempuh: 01 hari 10 jam 00 menit
  • Harga Tiket: Rp190.100

Harga tiket dan jadwal kapal bisa berubah sewaktu-waktu. Pastikan untuk memeriksa informasi terkini melalui aplikasi Pelni Mobile atau situs resmi pelni.co.id.

Cara Pesan Tiket Kapal Pelni Lewat Website

Jika ingin memesan tiket kapal Pelni melalui website, ikuti langkah-langkah berikut:

  1. Masuk ke web resmi PT Pelni lalu pilih menu “Reservasi Tiket”.
  2. Isi pelabuhan asal, pelabuhan tujuan, dan tanggal keberangkatan, berapa tiket, dan jenis kelas kapal, lalu klik “Cari Pelayanan”.
  3. Pilih kapal yang sesuai dengan tanggal keberangkatan dan kelas yang diinginkan.
  4. Jika ingin ganti rute dan waktu keberangkatan, klik “Buka Pencarian” di sisi kanan atas dan isi ulang tanggal dan rute yang diinginkan.
  5. Isi data pemesan tiket dan data calon penumpang lalu klik “Lanjut”.
  6. Lakukan pembayaran dengan menggunakan metode pembayaran yang tersedia.
  7. Setelah melakukan pembayaran, Anda akan memperoleh resi pembayaran yang memiliki kode booking yang akan digunakan untuk mencetak tiket di pelabuhan keberangkatan.