Wisata NTT: Sisi Lain Keindahan Sumba di Desa Ratenggaro

Keunikan Desa Adat Ratenggaro di Pulau Sumba

Pulau Sumba dikenal sebagai salah satu destinasi wisata yang menawarkan keindahan alam dan budaya yang khas. Selain memiliki sejuta pantai yang indah, Sumba juga menyimpan peninggalan leluhur yang sangat unik, seperti perkampungan adat dan ratusan kubur batu berusia ribuan tahun. Salah satu desa adat yang paling terkenal adalah Desa Adat Ratenggaro.

Desa ini terletak di ujung selatan Sumba, tepatnya di Desa Maliti Bondo Ate, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya. Lokasinya bersebelahan dengan Kampung Adat Wainyapu dan berada di muara Sungai Wai Ha. Nama “Ratenggaro” berasal dari dua kata, yaitu rate yang berarti kuburan dan garo, nama suku di Sumba. Menurut hikayat setempat, desa ini awalnya terbentuk setelah perang antarsuku, termasuk warga dari Suku Garo. Perang berakhir ketika Suku Garo dikalahkan dan seluruh warganya terbunuh serta dimakamkan di sekitar wilayah peperangan. Inilah yang membuat desa tersebut dinamakan Ratenggaro.

Uniknya, seluruh orang yang terbunuh dalam perang itu dikubur dalam bentuk bebatuan atau menhir. Kubur batu ini tersebar di sekitar desa, jumlahnya mencapai 304 buah. Teknik menhir di sini sudah ada sejak zaman megalitikum, sekitar 4.500 tahun lalu. Bentuknya beraneka ragam, umumnya seperti meja batu datar yang ditopang oleh pilar batu.

Baca Juga  Sekolah Pramugari PSPP Wisuda 2019

Di antara kubur batu tersebut terdapat makam pendiri Ratenggaro, Gaura dan istrinya, Mamba. Beberapa menhir terletak di tepi pantai, sekitar 500 meter di belakang perkampungan. Dua di antaranya sangat istimewa. Kubur batu pertama adalah milik Ratondelo, anak laki-laki pasangan Gaura-Mamba, yang kemudian dipercaya sebagai Raja Sumba. Setelahnya adalah kubur batu dari Rato Pati Leko, seorang pejuang paling dihormati oleh warga setempat.

Selain kubur batu, keunikan Ratenggaro juga terletak pada rumah adat mereka. Penduduk di sana tinggal di rumah panggung dengan atap menara menjulang tinggi. Menara pada rumah adat di Ratenggaro adalah yang tertinggi di antara rumah adat lain di seluruh Pulau Sumba. Tingginya mencapai 15 sampai 30 meter. Selain melambangkan status sosial, menara ini merupakan simbol penghormatan terhadap arwah para leluhur.

Rumah adat Ratenggaro juga memiliki makna spiritual. Rumah utama, Uma Katoda Kataku, merupakan simbolisasi ayah atau dituakan. Di sampingnya terdapat Uma Kalama (simbolisasi ibu), serta Uma Katoda Kuridan Uma Katoda Amahu (sebagai simbolisasi saudara ayah dan ibu). Posisi mereka saling berhadapan, mewakili empat penjuru mata angin.

Baca Juga  Q & A, Pertanyaan Seputar PSPP Penerbangan

Material rumah adat Ratenggaro masih sesuai dengan aturan adat. Tiang utama harus terbuat dari kayu kadimbil atau kayu besi. Atap dari alang-alang kering, bambu, kahi kara (sejenis akar gantung). Untuk pengikat bangunan, mereka menggunakan rotan. Jadi, rumah mereka tak mengandung unsur logam, baik paku untuk perekat maupun atap seng. Seluruh material diambil dari bahan alam di lingkungan sekitar.

Wisata Pantai Rantenggaro

Saat berwisata ke desa adat ini, kita tidak hanya menikmati suguhan uniknya rumah adat dan tebaran ratusan menhir. Warga desanya juga menjual aneka hasil kerajinan seperti kain tenun Sumba dan manik-manik dari batu dan taring babi hutan.

Kawasan pantainya di belakang perkampungan juga layak dikunjungi. Garis pantainya lumayan panjang dan dapat disusuri tak hanya dengan berjalan kaki saja. Jika tak ingin cepat lelah, kita dapat menyewa kuda dari penduduk setempat. Dikenal sebagai kuda Sumba, perawakannya lebih kecil kendati tak kalah gesitnya dengan kuda-kuda lain yang bertubuh lebih besar. Kuda-kuda ini juga bisa diajak berenang meski sedang ditunggangi, melintasi genangan setinggi 1-1,5 meter yang memisahkan garis pantai menjadi beberapa bagian.

Baca Juga  Tips Memilih Sekolah Pramugari Terbaik

Pasir pantainya putih bersih dan halus mirip butiran gula. Di beberapa titiknya membentuk gosong atau pasir timbul sepanjang hampir 200 meter dari bibir pantai. Gosong ini terbentuk saat air laut sedang surut. Biasanya terjadi ketika pagi hingga siang hari. Munculnya gosong seolah mempertegas batas antara wilayah laut serta daratan di sekitarnya termasuk dengan muara Wai Ha, sungai terpanjang di Kabupaten Sumba Barat Daya, yakni 19 km.

Gelombang laut di Pantai Ratenggaro cukup besar karena berasal dari arus selatan Samudra Hindia. Ini sangat cocok bagi para pemburu ombak alias penggemar olahraga selancar. Ratenggaro posisinya sekitar 56 kilometer dari Tambolaka, ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya, dan dapat ditempuh dalam 1,5 jam berkendara melewati aspal mulus. Kita bisa mencapai desa unik ini dari Tambolaka dengan menyewa mobil bertarif Rp500 ribu untuk dipakai seharian. Atau dapat menggunakan jasa ojek bertarif Rp200 ribu-Rp300 ribu.

Jangan lupa selalu menerapkan protokol kesehatan dan membawa alat dokumentasi untuk mengabadikan momen-momen spesial di sana. Selamat menjelajahi keindahan Pulau Sumba.

Gabung PSPP
Penerbangan Sekarang?

DAFTAR