SURABAYA,
Makassar Travel Fair 2025: Kembali Menarik Perhatian Wisatawan Surabaya
Kota Surabaya kembali menjadi pusat perhatian dalam promosi pariwisata dari wilayah timur Indonesia. Dalam gelaran Makassar Travel Fair (MTF) 2025 yang berlangsung di Atrium Tunjungan Plaza 6 pada 1–2 November 2025, Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Makassar memperkenalkan pesona wisata, budaya, dan kuliner khas kota Daeng. Acara ini menarik partisipasi sebanyak 28 tenant dari industri kreatif dan pariwisata, termasuk Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), serta Dekranasda.
Pelaku UMKM juga turut ambil bagian dengan membawa produk-produk kriya, tas, aksesoris, serta kuliner khas Makassar seperti coto, pallubasa, jalangkote, dan konro. Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Dispar Makassar, Yulianti Jabi, mengatakan bahwa tahun ini penyelenggaraan MTF lebih lengkap dibandingkan tahun sebelumnya. Tidak hanya fokus pada wisata, tetapi juga menampilkan produk lokal dan kuliner.
Menurut Yulianti, Surabaya merupakan salah satu pasar wisata terbesar bagi Makassar. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh lokasinya yang strategis, tetapi juga karena adanya konektivitas penerbangan langsung yang tersedia tiga kali sehari. “Surabaya masuk tiga besar. Pertama wisatawan dari Jakarta, kemudian Bali, lalu Surabaya. Orang Surabaya banyak yang suka kuliner Makassar. Jadi potensinya sangat besar,” ujarnya.
Sejak penyelenggaraan MTF sebelumnya, kerja sama antara dua kota ini telah mencatat hasil positif. Untuk tahun ini, hingga hari kedua pameran, sudah ada 400 paket wisata yang terjual. Targetnya adalah meningkatkan nilai transaksi dan jumlah wisatawan dibandingkan capaian sebelumnya. “Tahun lalu nilai transaksi hampir mencapai Rp 40 miliar, termasuk pembeli asal Korea Selatan sebesar Rp 2,1 miliar,” tambahnya.
Wisata Kapal Pinisi, Daya Tarik Utama MTF 2025
Salah satu daya tarik utama dalam pameran tahun ini adalah promosi wisata kapal pinisi, ikon maritim Sulawesi Selatan yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2017. Yulianti Jabi menyampaikan bahwa wisata kapal pinisi ini mulai dibuka untuk masyarakat umum, bukan hanya untuk tamu undangan.
Dinas Pariwisata Makassar mengoperasikan dua kapal pinisi yang melayani tiga paket wisata: sunset sailing, one day trip, dan half day trip. Rute pelayaran mencakup Pulau Lae Lae, Center Point of Indonesia, hingga Tanjung Bunga Makassar, dengan durasi 2,5–3 jam dan kapasitas maksimal 40 penumpang. “Pada sore hari, jam lima, wisatawan bisa menikmati sunset dari atas kapal. Konsepnya mirip city cruise, tapi versi Makassar,” jelasnya.
Kolaborasi Dua Kota, Bangkitkan Wisata Indonesia Timur
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Disbudporapar Surabaya, Farah Andita Ramdhani, menilai kerja sama antara Surabaya dan Makassar sangat solid, baik dalam sektor budaya maupun pariwisata. “Surabaya dan Makassar sangat dekat. Bukan hanya flight-nya banyak, tapi juga dalam event budaya kota sering menampilkan budaya Makassar. Bahkan banyak restoran Makassar yang buka di sini,” ujar Farah.
Menurutnya, kedekatan geografis dan budaya ini bisa menjadi jembatan untuk memperkuat market wisata Indonesia Timur. “Yang awalnya cuma kenal lewat kulinernya, bisa tertarik menikmati langsung di sana. Begitu juga sebaliknya, teman-teman Makassar bisa lebih mengenal potensi wisata Surabaya,” imbuhnya.
Selain mengenalkan destinasi dan kuliner, Dispar Makassar juga berkesempatan menikmati wisata Sungai Kalimas bersama Dinas Pariwisata Surabaya. “Alhamdulillah diajak menikmati wisata sungai Kalimas. Surabaya keren juga. Nah, kami di Makassar sedang menyiapkan wisata kapal pinisi berkapasitas 100 orang, durasi tiga jam sambil menikmati sunset, kembang api, dan makan malam,” tutur Yulianti Jabir.
Rencananya, paket wisata ini akan dibuka untuk masyarakat umum dengan tarif sekitar Rp 275.000 per orang. “Harapannya, program ini bisa berkontribusi pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pariwisata,” sambungnya.
Yulianti menegaskan bahwa kehadiran Makassar Travel Fair 2025 di Surabaya bukan sekadar promosi, tetapi juga bentuk kolaborasi nyata untuk memperluas jejaring antarindustri kreatif. “Harapan kami, MTF menjadi ruang aspirasi bagi seluruh pelaku pariwisata untuk berinovasi dan berkolaborasi. Sehingga wisata Makassar makin ramah budaya, berkelanjutan, dan dikenal lebih luas,” pungkas perempuan berkacamata itu.



